WELCOME TO LuKiViKy`s WoRLd !!!!!!!

Mencoba Untuk Menulis,,Mengungkapkan Isi Hati n Pikiran,,, so,, Have Fun With This By Reading,,Sharing,,n Giving Advices or Comments.. DANKE...THANK YOU!!!

Sabtu, 27 Februari 2010

Masalah Ergonomi

Pada pembahasan sebelumnya, saya pernah menjelaskan tentang apa itu ergonomi. Dan sekarang saya akan membahas sedikit tentang satu masalah yang ada pada ergonomi. Ergonomi adalah satu ilmu yang peduli akan adanya keserasian manusia dan pekerjaannya. Ilmu ini menempatkan manusia sebagai unsur pertama, terutama kemampuan, kebolehan, dan batasannya. Ergonomi bertujuan membuat pekerjaan, peralatan, informasi, dan lingkungan yang serasi satu sama lainnya. Metodenya dengan menganalisis hubungan fisik antara manusia dengan fasilitas kerja. Manfaat dan tujuan ilmu ini adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan pada saat bekerja. Dengan demikian Egonomi berguna sebagai media pencegahan terhadap kelelahan kerja sedini mungkin sebelum berakibat kronis dan fatal.

Aplikasi ergonomi dalam desain sistem kerja memberikan peranan penting dalam meningkatkan faktor keselamatan dan kesehatan kerja, misalnya: desain sistem kerja untuk mengurangi rasa nyeri dan ngilu pada sistem kerangka dan otot manusia. Desain stasiun kerja untuk alat peraga visual display, untuk mengurangi ketidaknyamanan visual dan postur kerja. Desain perkakas kerja untuk mengurangi kelelahan kerja. Desain peletakan instrumen dan sistem pengendali agar didapat optimasi dalam proses transfer informasi sehingga dihasilkan suatu respon yang cepat dengan meminimumkan resiko kesalahan, dan meningkatkan efisiensi kerja dan hilangnya resiko kesehatan akibat metode kerja yang kurang tepat.

Peran ergonomi dalam kehidupan sehari-hari dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

  1. Perancangan produk.
  2. Meningkatkan keselamatan dan higiene kerja.
  3. Meningkatkan produktivitas kerja.

Contoh dari masalah pada ergonomi adalah :

Misalnya dalam perancangan produk suatu Handphone. Dengan memperhatikan faktor-faktor Ergonomi maka hasil perancangan akan mengarah kepada kenyamanan dalam menggunakannya dan juga harus peduli terhadap dampak psikologis yang akan timbul pada pemakainya kelak. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam perancangan handphone agar Ergonomi yaitu:

  1. Penggunaan display layar, warna keypad, warna handphone sehingga memudahkan pembacaan dan tidak melelahkan mata.
  2. Perancangan dimensi handphone sehingga ukuran menyesuaikan dengan ukuran standar manusia.
  3. Perancangan berat handphone sehingga tidak melelahkan manusia saat dibawa.
  4. Desain ukuran keypad sehingga memudahkan jari-jari kita untuk navigasi.
  5. Penggunaan sistem operasi yang ada didalamnya sehingga memudahkan orang dalam menggunakannya.

Penerapan ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas desain ataupun redesain. Ergonomi dapat berperan pula dalam desain pekerjaan pada suatu organisasi misalnya: penentuan jumlah jam istirahat, pemilihan jadwal pergantian waktu kerja (shift kerja) dan meningkatkan variasi pekerjaan. Agar dapat menghasilkan rancangan sistem kerja yang baik perlu dikenal sifat-sifat, keterbatasan serta kemampuan yang dimiliki manusia. Dalam sistem kerja manusia berperan sentral yaitu sebagai perencana, perancang, pelaksana dan pengevaluasi sistem kerja yang bekerja secara keseluruhan agar diperoleh hasil kerja yang baik atau memuaskan.

Rabu, 24 Februari 2010

MANAJEMEN - KEPEMIMPINAN BAB IV

BAB IV – PEMIMPIN dan SIKAP DASARNYA

  1. 1. Cinta Kepada Sesama

Orang yang sungguh-sungguh mencintai sesamanya, akan berusaha betul-betul dengan segala gagasan yang ada padanya, dengan perkataan dan perbuatan yang dapat dilakukan, agar sesamanya mendapatkan sistem yang baik. Tanpa dasar cinta sejati kepada sesama, seseorangtidak akan terdorong berbuat sesuatu. Cinta kepada sesama menjadi dasar paling penting bagi seorang pemimpin.

  1. 2. Bercita – cita Tinggi

Dengan cita-cita yang tinggi, seseorang akan terdorong untuk bergerak dan berbuat. Cita-cita yang diimpikannya tidak hanya dalam mimpi tapi akan ia coba untuk merealisasikannya. Cita-cita perlu dijaga kemurniannya. Banyak pemimpin besar yang mulai berkarir dengan cita-cita yang baik, tapi diperjalanannya, entah karena jabatan atau kesialuan akan harta, sehingga kemurnian cita-cita yang baik akhirnya tercoreng.

  1. 3. Berbuat Secara Prinsipil

Berbuat secara prinsipil berarti berbuat menurut keyakinan hidup yang mengalir dari cita-cita yang ingin diraih. Pemimpin harus membina diri selalu berpedoman pada tujuan dan cita-cita yang sudah disepakati bersama. Tanpa berlandaskan tujuan, tindakan pemimpin akan cenderung bersifat opportunistis, untung-untungan, dan asal menyengankan orang yang dipimpinnya.

  1. 4. Setia kepada Kebenaran

Orang yang cinta akan kebenaran akan berusaha mencari fakta yang sebenarnya. Dia tidak mudah tertipu oleh berbagai hal semu. Dia akan berbuat berdasarkan hal nyata dan mengambil keputusan berdasarkan fakta.

  1. 5. Rendah Hati

Orang yang rendah hati adalah orang yang tidak bersikap super sok, tidak sombong dan tidak takabur. Tapi juga tidak bersikap minder, rendah diri, tidak merasa kalah dengan orang lain, tidak ragu-ragu dan tidak takut dalam tindakannya. Orang ini berbuat sewajarnya. Dia mengenal kelebihan dan kekurangannya. Dan sadar bahwa dirinya tidak sempurna.

Bookmark and Share

MANAJEMEN - KEPEMIMPINAN BAB III

BAB III – PEMIMPIN dan KECAKAPANNYA

Seorang pemimpin harus melengkapi diri dengan beberapa kecakapan yang mendukung seluruh usahanya. Beberapa kecakapan yang mendukung karir dan usahanya antara lain :

  1. 1. Kemampuan mempengaruhi

Tujuan membutuhkan pemimpin yang mampu mengajak, mengumpulkan dan menggerakkan orang-orang untuk membentuk kesatuan kerja sehingga dapat mencapai dan mewujudkan tujuan awal.

Mempengaruhi orang untuk bergerak mengejar tujuan tidaklah mudah. Karena setiap orang memiliki latar belakang dan pemikiran yang berbeda. Meskipun demikian, tetap saja setiap orang dapat dipengaruhi, misalnya dengan cara berikut :

Permintaan yang disertai ancaman

Pemimpin dapat menggunakan cara ini untuk orang yang dipimpinnya. Pemimpin mengajukan saran dan usul yang dirasa baik untuk membawa mereka pada tujuan bersama yang dimaksudkan untuk menyadarkan mereka akan kebaikan saran dan mendorong mereka agar mau menerimanya.

Contoh : pemimpin berkata : kalau anda tidak bersedia menerima saran saya, lebih baik anda mengangkat pemimpin lain.

Masalah yang muncul dari cara ini adalah bagaimana memulihkan kembali rasa aman dengan menghilangkan anacaman itu.

Identifikasi

Seseorang dapat dipengaruhi orang lain, karena dia dibujuk untuk mengidentifikasikan diri dengan orang lain. Pemimpin dapat mengajukan permintaan yang disertai bujukan agar mereka yang dipimpin menjadi sejalan dengannya.

Keyakinan

Orang dapat tergerak untuk melakukannya sesuatu karena berhasil diyakinkan oleh orang lain akan pentingnya perkara yang akan dilakukan.

Cara ini memberi kemungkinan kepada semua orang yang terlibat dalam usaha bersama untuk menimbang baik buruknya hal yang diajukan. Orang yang dipimpin diberi kesempatan untuk mengajukan saran perubahan atau penyempurnaan. Oleh karena itu terciptalah hubungan timbul balik antara pemimpin dan yang dipimpin.

  1. 2. Berpidato

Pembicaraan merupakan cara yang paling cepat dan paling mudah untuk menyatakan maksud, gagasan, dan pemikiran yang terismpan dalam hati. Orang yang mendengarkan semua itu akan tergerak untuk mewujudkannya.

Pidato instruktif : Melalui pidato, pemimpin dapat menyatakan, menerangkan, dan menjelaskan apa yang mau dicapai bersama dan bagaimana cara mencapainya.

Pidato persuasif : melalui pidato pemimpin dapat memberi ilham, keyakinan, dan semangat kepda yang dipimpin.

Pidato rekreatif : pemimpin dapat mengungkapkan pidato sekedar untuk menghilangkan ketegangan dan menciptakan suasana santai agar yang dipimpin merasa sedikit rileks.

  1. 3. Menyelenggarakan rapat

Untuk menyusun rencana kerja, rapat kerja mutlak diperlukan. Rapat yang dapat menghasilkan keputusan yang baik tidak terjadi begitu saja, tapi harus dipersiapkan dengan baik.

Mempersiapkan rapat

Ada 2 hal pokok yaitu masalah fisik dan acara. Persiapan fisik antara lain : kapan rapat diadakan, dimana akan diselenggarakan, bagaimana bentuk penyusunan tempat duduk. Pemimpin tidak boleh mengabaikan persiapan fisik dari rapat yang akan diadakan.

Persiapan acara rapat menyangkut hal yang akan dibicarakan pada rapat tersebut. Persiapan fisik dan acara yang baik menjadi landasan yang kokoh untuk terselenggaranya rapat yang baik.

Memimpin rapat kerja

Rapat kerja umumnya digunakan untuk mendapatkan mufakat pendapat dan kata sepakat untuk melaksanakan usaha bersama. Pada gaya otokratis, pemimpin hanya sekedar menyampaikan dan mengumumkan perintah. Pada gaya liberal, pemimpin harus sabar mendengarkan para anggota saling berdiskusi dan membahas segala permasalahan sampai tercapai kata sepakat. Pada gaya demokratis, pemimpin benar-benar mengarahkan pembicaraan tanpa mengesampingkan peranan mereka yang dipimpinnnya.

  1. 4. Merumuskan masalah

Membedah masalah

Kemungkinan pemecahan

  1. 5. Mengambil keputusan

Melaksanakan keputusan

Memeriksa hasil keputusan

MANAJEMEN - KEPEMIMPINAN BAB II

BAB II – PEMIMPIN dan KEGIATANNYA

  1. A. Mencapai Tujuan

Tujuan dan cita-cita yang mau dicapai bersama biasanya jauh dan tinggi. Pemimpin perlu menyadari kenyataan bahwa terkadang manusia tidak tertarik dengan tujuan yang tinggi. Pemimpin harus pandai membuat strategi kerja yang rapi. Oleh strategi itu, tujuan pokok yang ingin dicapai bersama seolah-olah dipecah-pecah menjadi tujuan yang mudah dan dekat untuk dicapai. Strategi yang baik membuat usaha bersama menjadi dinamis dan cepat menuju ke tujuan utama. Dalam usaha menuju tujuan utama, pemimpin harus memperhatikan 3 hal :

  1. 1. Membuat rencana kerja

Bermaksud merumuskan tujuan terdekat yang ingin dicapai agar tujuan utama dapat tecapai secara bertahap. Pemimpin dapat mengambil salah satu gaya dari gaya kepemimpinan yang disebut di atas. Dalam situasi darurat, gaya otokratis biasanya dapat digunakan . tapi dalam urusan ringan dan tidak menuntut tanggung jawab besar, gaya liberal lebih cocok untuk diterapkan. Sedangkan dalam masalah yang penting yang butuh pemikiran banyak dan keterlibatan tinggi dari bawahan, gaya demoratis lebih cocok diterapkan.

  1. 2. Melaksanakan rencana kerja

Walaupun rencana kerja sudah disusun sedemikan rupa, tapi apabila tidak dilaksanakan, maka tidak akan ada gunanya. Dalam garis besar harus ada panitia kerja yang terdiri dari : ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, seksi-seksi lain yang diperlukan. Untuk menjaga agar dalam pelaksanaannya tidak terjadi masalah, setiap panitia harus diberi perincian kerja yang jelas yang dibuat secara teliti dan harus terbuka. Tugas pemimpin disini adalah melihat dan menjaga agar panitia itu membentuk kesatuan kerja yang harmonis dan kompak.

  1. 3. Menilai hasil kerja

Banyak kegagalan dari kegiatan bersama adalah disebabkan para anggota tidak melakukan penilaian atas kegiatan yang telah dilaksanakan. Dalam penilaian, biasanya ditanyakan :

Jika kegiatan berhasil :

- Apa yang dihasilkan dari kegiatan itu?

- Apa hasilnya sesuai harapan?

- Bagaimana cara mencapai hasil tesebut?

- Apa yang akan dikerjakan dalam waktu dekat sebagai kelanjutan usaha yang berhasil itu?

Jika gagal :

- Apa yang menyebabkan kegagalan itu? Dan seberapa parah?

  1. B. Hal –Hal yang Mendukung Usaha

Untuk mendukung usaha tercapainya tujuan bersama itu, pemimpin perlu memperhatikan :

  1. 1. Membina kekompakkan

Kekompakkan merupakan syarat mutlak untuk tercapainya tujuan bersama. Untuk menciptakan suatu kekompakkan terkadang memang sulit. Tapi, jika suatu tujuan ingin berhasil, maka kekompakkan orang-orang yang terlibat didalamnya harus terbina dan terjaga. Pada umumnya manusia bersedia bekerja keras kalau dia merasa diterima dan merasa dapat memberikan sumbangan kepada kegiatan bersama yang diikutinya. Kadang demi cepatnya penyelesaian suatu tugas, tanpa disadari seorang pemimpin terlalu banyak bertindak menurut gaya kepemimpinan otokratis. Cara ini dapat menimbulkan ketegangan dalam kehidupan kelompok kerja. Sebaliknya, gaya liberal dijadikan mode cara bertindak, mereka yang dipimpin merasa dibiarkan saja dalam kegiatan mereka. Mereka merasa bebas tapi merasa tidak dituntut dan ditantang untuk menyelesaikan sesuatu.

Salah satu cara untuk mengetahui bagaimana perasaan mereka yang dipimpin terhadap kehidupan bersama adalah pada saat tertentu mereka diminta untuk memberi jawaban atas perntanyaan berikut :

- Bagaimana pendapat mereka terhadap kegiatan bersama selama ini?

- Berapa jauh menurut pendapat mereka hal-hal yang menentukan terciptanya keputusan bersama?

- Apa harapan, saran, dan permintaan mereka demi perbaikan usaha bersama?

Pertanyaan itu akan efektif jika para anggota menjawab pada sehelai kertas tanpa nama mereka. Dari jawaban mereka akan terlihat pendirian mereka terhadap tata kehidupan bersama dan kegiatan yang mereka lakukan bersama.

  1. 2. Disiplin kerja

Pemimpin harus menyatukan pekerjaan –pekerjaan yang dilakukan oleh para petugas menjadi kesatuan kerja yang terarah ke tujuan dan cita-cita yang mau dicapai. Karena itu pemimpin pada umumnya diharapkan jangan menangani sendiri hal-hal yang sudah diserahkan kepada petugas. Kedisiplinan harus dijaga. Gaya kepemimpinan otokratis biasanya melalaikan segi penyerahan tanggung jawab ini. Gaya kepemimpin liberal sebaliknya menimbulkan kesan sikap acuh tak acuh pada diri pemimpin. Kepemimpinan demokratis merupakan jalan tengah dari dua gaya tersebut.

  1. 3. Dekat dengan mereka yang dipimpin

Sikap saling mendukung dan memperhatikan akan menciptakan suasana kerja yang segar. Semua pihak akan merasa diterima. Kedua belah pihak antara pemimpin dan yang dipimpin saling membutuhkan dan bekerja sama. Kedekatan ini merupakan landasan yang kuat untuk berdiri dan lancarnya organisasi.

  1. 4. Awas dan waspada

Dengan berbagai cara pemimpin harus berusaha menangkap apa yang ada dalam hati mereka yang dipimpinnya. Pemimpin harus mencari akal untuk menyusun kerja yang dapat memenuhi harapan mereka dan menghilkan rasa khawatir mereka. Pemimpin harus bersikap terbuka. Dia harus mudah memberi informasi dan keterangan yang perlu diketahui oleh orang yang dipimpinnya. Mereka harus mengetahui apa masalah, persoalan, atau kesulitan yang sedang dihadapi.

MANAJEMEN - KEPEMIMPINAN BAB I

BAB I – PEMIMPIN dan PERANNYA

Dalam perjalanan hidup kita terkadang terdapat saat kritis dimana kita harus menentukan arah kemana agar kita tetap survive. Saat – saat itu muncul dikarenakan adanya masalah penting yang menuntut penyelesaian masalah dengan tegas dan tepat. Masalah itu dapat saja berupa masalah keluarga, masalah dengan lingkungan, bahkan karena dampak dari masalah dunia.

Pada saat kritis tersebut, tokoh-tokoh pemimpin sangat diharapkan untuk ada dan hadir untuk menyelesaikan saat kritis tersebut. Para pemimpin itu adalah orang-orang yang tahu apa yang harus dikerjakan pada saat yang genting seperti itu. Pemimpin yang baik seharusnyalah memiliki kecakapan dan kemampuan untuk mempengaruhi dan mengajak, mengumpulkan dan menggerakkan orang lain untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pemimpin merupakan orang yang mampu membina orang lain untuk membentuk satu kesatuan kerja dan bersama-sama bekerja, bahkan kadang pula berkorban demi terselesaikannya persoalan tersebut.

Siapakah pemimpin itu??

Dalam bahasa Inggris pemimpin disebut leader , yang berasal dari kata to lead. Dari kata tersebut terdapat beberapa makna yaitu : memelopori, mengarahkan, membimbing, menuntun, menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya. Oleh karena itu pemimpin seharusnya orang yang bergerak lebih awal, berjalan di depan, mengambil langkah pertama, dan berbuat paling dulu. Beberapa kata lain dari pemimpin adalah : penghulu, pemuka, peolopor, pengarah, pembimbing, penuntun, penggerak.

Dengan menjadi pemimpin, seseorang mendapat kedudukan tertinggi dalam lingkungannya, beserta kekuasaan, fasilitas hidup, alat kerja, dan berbagai keuntungan karena jabatan yang melekat pada dirinya. Namun inti kepemimpinan bukan hanya terletak pada kedudukan yang ditempati, tetapi intinya adalah fungsi dan tugas.

Perhatian utama pemimpin adalah tujuan dan cita-cita yang akan dicapai karena berguna dan bermanfaat dan penting bagi kesejahteraan bagi kehidupan orang banyak. Tugas kepemimpinan adalah tugas pengabdian.

Sadar bahwa tujuan dan cita-cita itu b aik demi kesejahteraan orang banyak, seorang pemimpin berusaha mempengaruhi, mengajak, mengumpulkan dan menggerakkan banyak orang untuk bersama-sama bekerja mencapai tujuan dan cita-cita itu. Kalau pemimpin dan semua orang dibawah kepemimpinannya sudah yakin akan kebaikan tujuan dan cita-cita itu bagi kehidupan bersama, mereka dapat membentuk suatu organisasi kerja. Dalam bentuk organisasi, kegiatan para anggota yang sepakat mengenai kepentingan tujuan dan cita-cita itu dipersatukan. Penyatuan kegiatan itu dicapai dengan membagi-bagi pekerjaan, tugas, kekuasaan dan tanggung jawab dikalangan mereka. Kesediaan pemimpin untuk rela bekerja dan berjuang bersama dengan yang dipimpinnya menjadi bukti dari ketulusan hatinya. Organisasi kerja merupakan unsur penting kedua dalam masalah kepemimpinan.

Pada dasarnya, sifat kepribadian dan macam-macam keahlian dituntut agar dalam diri mereka yang dipimpinnya tumbuh kepercayaan. Pemimpin yang mempunyai kepribadian yang baik dan keahlian yang unggul menciptakan kepercayaan dalam hati mereka yang dipimpinnya. Berkat mutu kepribadian kepribadian dan keahlian pemimpin, orang yang dipimpin menjadi yakin bahwa tujuan akan tercapai. Dengan dedikasi dan pengabdiannya itu seorang pemimpin menyatakn diri kepada mereka yang dipimpinnya bahwa ia bukan saja hanya mampu bicara kosong tetapi ia dapat melakukan tindakan nyata. Kepribadian dan keahlian merupakan unsur ketiga dalam kepemimpinan.

Jadi seorang pemimpin adalah petugas yang bersedia bekerja demi tujuan dan cita-cita bersama dengan berusaha mencapai tujuan dan cita – cita bersama mereka yang dipimpinnya melalui suatu organisasi yang teratur.

JENIS – JENIS PEMIMPIN

  1. 1. Pemimpin Keturunan – Pemimpin Paksaan

Seseorang dapat menduduki tempat kepemimpinan dengan berbagai cara. Ada yang karena darah yang mengalir dalam dirinya atau karena faktor keturunan. Contoh : raja-raja pada zaman dulu. Ada yang karena dipilih menurut aturan pemilihan tertentu.

Ada yang ditunjuk oleh penguasa yang lebih tinggi. Ada yang begitu saja tumbuh menjadi pemimpin. Ada yang karena dipaksa oleh keadaan yang mendesak. Contoh : tokoh kemedekaan di berbagai daerah waktu terjadi perebutan kekkuasaan.

  1. 2. Pemimpin Resmi – Pemimpin tidak Resmi

Dilihat dalam kerangka pelembagaan kemasyarakatan yang ada, kedudukan pemimpin itu termasuk ke dalam atau ada diluar struktur kemasyarakatan yang ada. Pemimpin yang menduduki kursi kepemimpinan yang termasuk ke dalam suatu lembaga disebut pemimpin resmi. Contoh : presiden, menteri, gubernur merupakan pemimpin resmi di Indonesia. Mereka mempunyai nama jabatan dan tanggung jawab yang jelas dan tegas. Sedangkan pemimpin yang tidak menduduki suatu tempat tertentu dalam kerangka struktur kemasyarakatan disebut pemimpin tidak resmi. Mereka ini tidak memiliki nama jabatan serta tidak dibebani tugas dan tanggung jawab yang jelas. Namun daya kepemimpinanannya terasa dalam peristiwa kemasyarakatan yang penting. Contoh : bung tomo atau Ki Hajar Dewantara, adalah pemimpin tidak resmi pada zaman mereka.

  1. 3. Pemimpin Ideologis – Pemimpin Eksemplaris

Ada pemimpin ideologis, pemimpin jenis ini barangkali tidak ahli dalam menyusun rencana kerja dan pelaksanaannya, mungkin juga tidak memiliki pribadi yang mengesankan namun dia dianugerahi pikiran yang hidup.

+ Otaknya dipenuhi gagasan-gagasan yang bagus dan kaya dengan visi yang tinggi dan mampu menyajikannnya dengan cara yang memikat.

<>

Ada juga pemimpin organisatoris, pemimpin jenis ini mungkin hanya mempunyai pikiran yang sedehana dan tidak fasih berbicara.

+ Tapi dia pandai menggerakkan orang melalui kecakapan organisatorisnya dan dapat menyusun rencana kerja yang jitu. Pemimpin ini berhasil menyatukan dan menggerakkan orang.

<>

Ada pemimpin kharismatis, pemimpin ini mampu menggerakkan orang lain melalui kekuatan pribadinya.

+ Kehadirannya selalu membuat orang terpesona. Karena pesonanya, orang mudah mengikutinya, mendengarkan nasihatnya, dan mentaati perintahnya.

<>

= Pemimpin ini membutuhkan pendamping yang dapat menjadi sumber gagasan dan pengatur kerja dari usaha bersama itu.

Ada pula pemimpin eksemplaris, pemimpin ini mungkin tidak memiliki gagasan yang hebat, daya penggerak masa yang dahsyat atau daya tarik pribadi yang hebat.

+ Tapi ia memiliki cara hidup yang menjadi sumber pengaruh dan penggerak yang tidak dapat diragukan. Ia dapat menciptakan gaya hidup yang mengesankan.

Teladan hidupnya menjadi sumber dorongan dan semangat bagi orang-orang lain. Pemimpin eksemplaris, pemimpin teladan, memimpin orang-orang lain dengan hidupnya sendiri.

  1. 4. Pemimpin Otokratis – Pemimpin Demokratis

Kepemimpinan Otokratis

Pemimpin dapat memegang kekuasaan yang ada pada dirinya secara mutlak. Dalam gaya ini pemimpin bersikap sebagai penguasa dan yang dipimpin sebagai yang dikuasai. Dalam gaya ini, kita menemukan pemimpin yang :

- Mengatakan segala sesuatu yang harus dikerjakan oleh yang dipimpim -> Diktator.

- Menjual gagasan dan cara kerja kepada kelompok orang yang dipimpinnya

Kepemimpinan Demokratis

Gaya ini menciptakan suasana yang demokratis. Pemimpin berusaha membawa mereka yang dipimpin menuju tujuan dengan memperlakukan mereka secara adil. Kadang batasan pemimpin dan bawahan menjadi kabur. Pada gaya ini kita menemukan pemimpin yang membawa mereka yang dipimpin menuju tujuan dengan :

- Menyajikan masalah dan cara pemecahan masalahnya kepada yang dipimpin.

- Mengajak yang dipimpin untuk bersama merumuskan masalah dan cara pemecahannya,

KESIMPULAN

Pada intinya pemimpin merupakan tugas pengabdian. Dia ada untuk khalayak luas dan untuk mencapai tujuan dan cita-cita bersama. Pemimpin adalah orang yang tahu apa yang akan dicapai, mengerti jalan untuk tujuan tersebut, dan dapat menunjukkan tujuan dan jalan yang akan ditempuh pada orang yang dipimpinnya.